Air adalah sumber kehidupan bagi manusia. Sekitar 71% dari permukaan bumi ditutupi oleh air. Dari jumlah tersebut, 1%nya merupakan air tawar yang menjadi kebutuhan pokok hampir seluruh makhluk hidup yang berhabitat di daratan. Air tawar ini dapat ditemukan dalam sungai, danau, air tanah, es dan uap air. Salah satu kendala dalam penggunaan air tawar adalah keterbatasan distribusinya ke lokasi-lokasi yang membutuhkannya. Tidak semua air tawar tersebut merupakan air bersih yang bisa langsung digunakan oleh manusia. Banyak daerah yang mengalami kelangkaan air bersih hingga terjadinya krisis air bersih terhadap pemenuhan kebutuhan masyarakat, termasuk yang terjadi juga di Kabupaten Landak.

Menurut World Health Organization (WHO), kebutuhan akan air bersih ideal adalah 100 - 200 liter/orang/hari tergantung pada kondisi alam. Berdasarkan data Berita Resmi Statistik No. 07/01/61/Th. XXIV, 21 Januari 2021 jumlah penduduk penduduk Kabupaten Landak mencapai 397.610 jiwa. Hal ini berarti kebutuhan ideal air bersih penduduk Kabupaten Landak adalah 39.761.000 – 79.522.000 liter atau sama dengan 39.761 - 79.522 m3.

Sebelum melonjaknya tingkat pencemaran di Daerah Aliran Sungai (DAS) Kapuas dan DAS Sungai Landak yang terdapat di Kabupaten Landak, volume kebutuhan ini bukanlah merupakan masalah besar . Namun kini, kondisi DAS tersebut semakin menurun oleh meningkatnya pencemaran yang mengakibatkan rendahnya standar baku mutu air bersih. Salah satu tindakan yang harus segera dilakukan adalah mengupayakan pengolahan air baku dengan menggunakan teknologi pengolahan air sesuai dengan karakteristik DAS.

Terkait masalah tersebut Bidang Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Landak melaksanakan kegiatan penelitian Teknologi Pengolahan Air Bersih berdasarkan kualitas air baku di aliran Sungai Landak di Kabupaten Landak. Pengambilan sampel air ini merupakan salah satu tahapan awal dalam kegiatan penelitian, pengembangan, dan perekayasaan teknologi dan inovasi dari Bidang Litbang Bappeda Kabupaten Landak.

Pada tanggal 30 April - 3 Mei 2021 lalu, tim Bidang Litbang Bappeda Kabupaten Landak melakukan pengambilan sampel air di DAS Landak. Dalam pengambilan sampel air tahap pertama ini dilakukan pengambilan sampel di 12 titik dari 20 titik yang direncanakan. 12 titik dimaksud adalah sebagai berikut:

1. 2 titik di Ngabang Kota, yaitu di bawah Jembatan Baru dan di Hilir Pasar Ngabang;

2. 2 titik di Desa Mungguk, yaitu di bagian hilir muara Sungai Banyuke dan di Sungai Banyuke sebelum memasuki Sungai Landak;

3. 2 titik di Kuala Behe, yaitu di hilir muara Sungai Behe dan di Sungai Behe sebelum memasuki Sungai Landak;

4. 2 titik di Belimbing, yaitu di hilir muara Sungai Dait dan di Sungai Dait sebelum memasuki Sungai Landak;

5. 1 titik di Desa Nyari, yaitu di bawah Jembatan Gantung Nyari; dan

6. 3 titik sampel kontrol yang terdiri yang bersumber dari Sumur Dangkal, Sumur Bor dan air baku yang diolah oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Landak yang ketiganya berada di Kota Ngabang.

Selanjutnya sampel air yang diperoleh dibawa ke Pontianak untuk Uji Laboratorium terhadap Sifat Fisika, Kimia dan Biologi.

Dengan penelitian yang dilakukan secara Swakelola Tipe 1 ini diharapkan dapat dihasilkan sebuah rekomendasi mengenai Teknologi Pengolahan Air Bersih berdasarkan Kualitas Air Baku dari Aliran Sungai Landak di Kabupaten Landak. Dr. Emilius Sudirjo, ST, M.Sc selaku Koordinator Tim Peneliti, menjelaskan bahwa proposal desain penelitian ini sudah dipaparkan pada Seminar Pendahuluan pada tanggal 4 Maret 2021 untuk mendapatkan masukan dari pihak-pihak terkait untuk pelaksanaan penelitian ini. “Output penelitian ini nantinya tidak hanya berupa rekomendasi teknologi pengolahan air bersih, bahkan kita akan merancang desain teknologi yang cocok untuk beberapa kapasitas pengolahan, misalnya untuk kapasitas 1 rumah tangga, 10 rumah tangga atau suatu kawasan pemukiman. Kita berharap rekomendasi teknologi dan desain yang kita berikan bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan ideal air bersih. Dengan demikian, penelitian ini bisa memberikan solusi dalam menghadapi permasalahan air bersih yang ada di Kabupaten Landak, terutama di sepanjang DAS Landak”, demikian tutur Dr. Emilius yang juga merupakan Ahli Ilmu Lingkungan/Teknologi Lingkungan ini. (Emilius Sudirjo)