Bidang Penelitian dan Pengembangan (Litbang), melakukan panen Jagung Manis di lokasi penelitian, Dusun Meroboh Desa Tubang Raeng Kecamatan Jelimpo. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian penelitian penanaman padi di lahan kering dengan sistem tumpangsari tanpa membakar lahan tahun 2021. Kegiatan yang sudah disosialisasikan sebelumnya ini bertujuan agar Kabupaten Landak memiliki inovasi baru dalam upaya pengembangan di bidang pertanian, khususnya untuk lahan kering termasuk perbukitan. Keluaran yang diharapkan dari penelitian ini adalah solusi bagi perladangan berpindah yang dapat beresiko kebakaran hutan.
Penelitian berladang dengan sistem tumpang sari ini dimulai dengan penanaman varietas-varietas padi untuk lahan kering seperti; Inbrida Padi Gogo (Inpago) yaitu Inpago 8, Inpago 9, Inpago 10, Inpago 11, Inpago 12 dan Kontrol 1 pada tanggal 5 Mei 2021 lalu. Selanjutnya dilakukan penanaman jagung dengan varietas; Bisi 321, Kontrol 2, Bisi 99, Nasa 29 (Nakula Sadewa), JH 37 (Jagung Hibrida) dan Jagung Manis ditanam serentak pada tanggal 19 Mei 2021. Tahap selanjutnya dilakukan pemupukan dan perawatan tanaman dengan memperhatikan kondisi tanaman dan perkembangannya, serta ancaman yang disebabkan oleh cuaca dan hama. Untuk menyukseskan penelitian ini, Tim Litbang Bappeda Kabupaten Landak menggandeng tenaga ahli dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Kalimantan Barat.
Tim Litbang Bappeda Kabupaten Landak telah melakukan panen Jagung Manis pada tanggal 29 Juli 2021. Proses panen varietas jagung lainnya diperkirakan bersamaan dengan padi yaitu pada akhir Bulan Agustus atau awal Bulan September 2021. Kegiatan panen Jagung Manis ini dihadiri oleh Tim Bidang Litbang Bappeda, pihak Penyuluh dari BPP Jelimpo dan personel bidang lainnya di Bappeda Kabupaten Landak. Sebelum mulai proses panen, Tim Litbang diarahkan oleh Romanus Sugianto, S.Sos (Kasubbid Ekonomi dan Pembangunan Bidang Litbang) untuk menjaga kualitas panen dan keamanan tanaman di sekitarnya. Hal ini penting sekali mengingat lokasi kebun ini ditata 4 blok, dimana masing-masing blok dibagi lagi menjadi 6 sub-blok dan setiap sub-bloknya memiliki varietas tanaman yang berbeda-beda. Di setiap blok, Jagung Manis yang dipanen berada di salah satu sub-blok dengan jumlah 3 plot per sub-blok. Usai panen, dilakukan lagi penghitungan jumlah tongkol yang sudah disortir berdasarkan kriteria yang sudah ditentukan dan penimbangan berat jagung. Dalam panen ini diperoleh Jagung Manis sejumlah 687 tongkol dengan berat 179,8 kg. Percobaan penanaman Jagung Manis pada lahan tumpangsari tanpa membakar lahan cukup memuaskan, berkat perawatan yang maksimal pada tanaman dan kondisi tanah. Untuk itu penerapan sistem ini harus memperhatikan kondisi bibit pilihan, agar hasilnya optimal.
Sementara ini, Tim Litbang Bappeda Kabupaten Landak belum dapat menyimpulkan hasil penelitian secara menyeluruh karena harus menunggu varietas lainnya memasuki usia panen. Sambil memantau proses perkembangan padi, tim ini sudah mempersiapkan strategi penanggulangan hama terutama hama burung pipit dan serangan tikus. (Deliana dan Emilius)