Selasa, 31/08/2021 Bidang Penelitan dan Pengembangan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Litbang Bappeda) Kabupaten Landak menyelenggarakan kegiatan panen perdana padi ladang di Dusun Meroboh Desa Tubang Raeng Kecamatan Jelimpo. Kegiatan ini merupakan kelanjutan dalam rangkaian penelitian budidaya padi lahan kering dengan sistem tumpangsari tanpa membakar lahan, kerjasama antara Bappeda Kabupaten Landak dengan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Provinsi Kalimantan Barat. Proses panen dilakukan saat padi berusia 109 - 119 hari setelah tanam.

Kegiatan panen perdana ini diawali dengan pemanenan padi secara simbolis oleh Bupati Landak, yang pada kesempatan tersebut diwakili oleh Staf Ahli Bupati Bidang Pembangunan, Ekonomi dan Keuangan, Anem, S.E., M.Si bersama Kepala Bappeda, Kepala BPTP, Kepala Dinas Pertanian, Perikanan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Landak, Camat Jelimpo dan Kepala Desa Tubang Raeng. Turut menghadiri kegiatan ini diantaranya Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Landak, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Landak, perwakilan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa, Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam Sekretariat Daerah Kabupaten Landak, Kepala Balai Pelatihan Pertanian (BPP) Jelimpo, dan Pembinaan Masyrakat Kepolisian Resort (Binmas Polres) Landak, serta para petani yang dilibatkan dalam kegiatan penelitian ini.

 

Rangkaian acara dilanjutkan dengan sambutan dari Kepala Bappeda Kabupaten Landak yang dalam hal ini diwakili oleh Sekretaris, Supermin, ST. dan Kepala BPTP yang diwakili oleh Kepala Seksi Kerjasama BPTP Provinsi Kalimantan Barat, Agus Subekti, S.P., M.P. Dalam kata sambutannya Agus Subekti mengulas bahwa benih padi lahan kering yang dibudidayakan dalam kegiatan penelitian ini adalah varietas-varietas unggul yang sudah teruji yaitu Inpago 8, Inpago 9, Inpago 10, Inpago 11 dan Inpago 12. Untuk benih jagung yang dijadikan tanaman sela juga sudah bersertifikat. Beliau juga menyampaikan bahwa proses pemupukan dilakukan secara efisien dan tepat waktu. Dalam proses pemupukan diterapkan hasil inovasi-inovasi teknologi pemupukan berimbang dari Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Pertanian dengan Perangkat Uji Tanah Lahan Kering (PUTK) untuk penentuan pupuk P dan K dan Bagan Warna Daun (BWD) untuk penentuan pupuk N.

 

 

Acara dibuka oleh Bupati Landak yang diwakili oleh Staf Ahli Bupati Bidang Pembangunan, Ekonomi dan Keuangan, Anem, S.E., M.Si. Dalam kata sambutan beliau menyampaikan tujuan utama kegiatan penelitian ini adalah untuk dapat memberikan rekomendasi bagi pengembangan pertanian padi lahan kering di Kabupaten Landak. Rekomendasi tersebut diharapkan mampu mengatasi drawback (kekurangan) pertanian padi lahan kering. Pertama, sistem pembukaan lahan dengan sistem membakar lahan dapat menyebabkan kebakaran hutan dan kabut asap. Kedua, sistem rotasi lahan (berpindah) menyebabkan kurang fokusnya petani dalam mengelola lahan yang ada. Keterbatasan area hutan untuk berladang juga menjadi dilema dalam mempertahankan pola berladang seperti ini. Ketiga, pengelolaan ladang yang hanya mengandalkan satu komoditas dengan pola panen satu kali dalam setahun sebagian besar kurang maksimal. Berladang menjadi salah satu tradisi masyarakat dengan nilai budaya dan historis yang perlu dipertahankan. Dengan rekomendasi dari penelitian ini masyarakat Kabupaten Landak dapat melestarikan budaya berladang tanpa harus membakar lahan. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Landak juga menjelaskan inovasi ini akan menghindarkan petani yang menerapkannya dari jerat hukum, dimana acuannya diatur dalam Peraturan Bupati Landak Nomor 36 Tahun 2020 tentang Tata Cara Pembukaan Lahan Pertanian Berbasis Kearifan Lokal Bagi Masyarakat di Kabupaten Landak dan Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 103 Tahun 2020 tentang Pembukaan Area Lahan Berbasis Kearifan Lokal.

(Bayu, Deli dan Emil).