Padi merupakan salah satu bahan pangan pokok masyarakat Indonesia, termasuk di Kabupaten Landak, Provinsi Kalimantan Barat. Berdasarkan jenis lahan tanam, hingga kini terdapat dua pola tanam padi yang diterapkan oleh masyarakat di Kabupaten Landak, yaitu bercocok tanam padi di lahan basah (sawah) dan bercocok tanam padi di lahan kering (ladang).  Berbeda dengan pola tanam padi sawah yang menetap dan bisa dilakukan panen 2 sampai 3 kali dalam setahun, pola tanam padi ladang masih dilakukan secara tradisional. Dalam pola tanam padi ladang ini, proses berladang diawali dengan membuka lahan (sekitar bulan Juni - Juli), kemudian dilakukan pembakaran lahan (sekitar bulan Juli - Agustus). Selanjutnya dilakukan penanaman dan waktu panen sekitar bulan Februari - Maret. Setelah itu lahan bekas ladang akan dibiarkan hingga beberapa tahun sebelum digunakan lagi untuk berladang. Untuk keberlanjutan pola tanam padi ladang, setelah suatu lahan ladang selesai dipanen biasanya peladang akan mencari lokasi baru untuk ditanami.

Pola tanam padi ladang memang sudah menjadi tradisi bagi masyarakat di Indonesia, khususnya di Kabupaten Landak. Namun pola tanam ini juga memiliki beberapa dampak buruk  (drawback). Pertama, sistem pembukaan lahan dengan sistem membakar dapat menyebabkan kebakaran hutan dan kabut asap. Pada tahun 2020 sebanyak 7.646 ha lahan terbakar di Kalimantan Barat (Karhutla Monitoring System). Kedua, sistem perladangan berpindah (shifting cultivation) menyebabkan kurang fokusnya petani dalam mengelola lahan yang tersedia. Selain itu, semakin terbatasnya wilayah hutan yang dapat digunakan untuk berladang juga menjadi suatu hambatan dalam mempertahankan sistem perladangan berpindah. Ketiga, produktivitas pola tanam padi ladang yang selama ini diterpkan kurang maksimal karena hanya mengandalkan satu komoditas utama dengan musim panen yang hanya satu kali dalam setahun. Namun disisi lain, berladang merupakan suatu kebudayaan turun temurun dengan nilai budaya dan historis yang perlu dipertahankan.

Bidang Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Landak mengupayakan suatu inovasi untuk dapat menjawab tantangan tersebut, yaitu melaksanakan Kegiatan Penelitian Penanaman Padi Lahan Kering dengan Sistem Tumpang Sari tanpa membakar lahan. Kegiatan tersebut dimulai dengan sosialisasi melalui Seminar Pendahuluan pada tanggal 4 Maret 2021 oleh tim Bidang Litbang di Aula Bappeda Kabupaten Landak. Lokasi penelitian ini adalah di Dusun Meroboh, Desa Tubang Raeng, Kecamatan Jelimpo Kabupaten Landak. Melalui Kegiatan Penelitian Penanaman Padi Lahan Kering dengan Sistem Tumpang Sari tanpa membakar Lahan ini diharapkan dapat meningkatkan produksi padi untuk menjaga ketahanan pangan secara inovatif. Dengan inovasi ini diharapkan tidak hanya satu varietas tanaman pangan yang dapat ditanam dalam satu lahan, melainkan beberapa varietas lainnya seperti padi, jagung, cabe, terong dan lain-lain.

Menimbang keterbatasan Sumber Daya Manusia di Bidang Litbang Bappeda Kabupaten Landak saat ini, dalam Kegiatan Penelitian Swakelola Tipe I ini, kami bekerjasama dengan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Provinsi Kalimantan Barat untuk memperoleh fasilitasi tenaga-tenaga ahli di bidang Mekanisasi Pertanian, Sumber Daya Lahan, dan Budidaya Tanaman” ujar Eva Oktaviani selaku Kepala Bidang Penelitian dan Pengembangan Bappeda Kabupaten Landak.  Dr. Emilius Selaku koordinator tim peneliti menambahkan “Melalui kegiatan penelitian ini diharapkan akan diperoleh keluaran (output) berupa rekomendasi mengenai penanaman padi di lahan kering dengan sistem tumpangsari tanpa membakar lahan. Semoga kedepannya akan memberikan dampak (outcome) yang diharapkan, yaitu masyarakat Kabupaten Landak, khususnya peladang agar memiliki alternatif metode berladang menetap tanpa membakar lahan dengan menerapkan metode yang direkomendasikan ini.”

Hingga saat ini kegiatan penelitian tersebut sudah memasuki tahap penanaman.  “Tanggal 5 Mei 2021 lalu kami sudah menanam padi dengan cara menugal. Untuk saat ini kami menggunakan benih padi jenis INPAGO 8, INPAGO 9, INPAGO 10, INPAGO 11 dan INPAGO 12, serta bibit padi lokal yang sebelumnya ditanam di lokasi penelitian oleh petani setempat. Kemudian pada tanggal 19 Mei 2021 lalu saat padi berusia 14 Hari Setelah Tanam (HST) kami melakukan penugalan benih jagung yang dilanjutkan dengan pemberian pupuk dasar pasca tumbuh untuk tanaman padi.” papar Bayu Putraman selaku anggota tim peneliti. “ Selanjutnya akan dilakukan perawatan sesuai dengan desain penelitian untuk masing-masing varietas tanaman dan direncanakan pada akhir Agustus nanti kita akan melakukan proses panen” tambah Mario Fransiskus yang juga merupakan anggota tim peneliti. (Emilius, Bayu dan Deliana)